Kopi dan Mitos PMII
Tadi malam sampai menjelang subuh beberapa pimpinan cabang dan coordinator cabang PMII dari seluruh Indonesia berkumpul disalah satu auditorium di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) dalam acara Pra Kongres yang diadakan PKC Jakarta, sebenarnya acara tersebut sudah berlangsung dari hari kamis, namun kebetulan saya baru berkesempatan ikut tadi malam. Tema Pembahasan malam tadi adalah tentang tata kaderisasi PMII yang difasilitatori oleh sahabat Hasan mantan Pengurus Besar PMII sekaligus pengarang buku Multi Level Strategi. pembahasan dimulai dengan para peserta diminta mengisi kuesioner tentang kekurangan dan penambahan poin apa saja yang diperlukan pada buku Multi Level Strategi yang selama enam tahun belakangan ini digunakan sebagai buku acuan kaderisasi PMII, lalu diskusi bergulir pada pemaparan secara lisan oleh para peserta yang notabene adalah pemimpin di cabangnya masing-masing, tentang permasalahan kaderisasi di setiap local. peserta juga menyampaikan beberapa kekurangan dalam tata kederisasi PMII selama ini, selain itu banyak masukan juga yang disampaikan agar kaderisasi PMII tetap dapat menjawab tantangan zaman yang selalu berubah.
Pembahasan yang terasa menarik menurutku tadi malam adalah tentang value, mitos dan simbol Yang biasanya dimiliki oleh setiap oragnisasi, seperti sahabat Hasan memberikan contoh kaum nasionalis memiliki value marhaenisme, dengan didahului oleh mitos pertemuan antara Soekarno dengan seorang petani bernama Marhaen, dan lalu terciptalah symbol bahwa kaum nasionalis itu adalah pembela wong cilik, hal itu yang akhirnya tertanam dalam diri setiap kaum nasionalis. maka perserta diminta mengungkapkan secara personal tentang Value, Mitos dan symbol menurut pengalaman masing-masing yang tak terlupan dari PMII yang membuat ia akhirnya memilih PMII dan tetap bertahan di PMII. Peserta pun diminta menuliskanya di selembar kertas, dari banyak pemaparan sahabat-sahabat, ada satu yang menggelitikku yaitu mitos yang di sebutkan oleh sahabatku dari cabang yang sama denganku (cabang Bekasi) tadi malam tentang pengalaman yang membuatnya jatuh cinta dan selalu cinta dengan PMII adalah kopi. Sederhana terdengarnya, namun ada makna romantisme yang tercipta begitu lekat. Bukan hanya karena warnanya yang hitam pekat dan rasanya yang exotis, tapi kopi menciptakan banyak sensasi yang dirasa oleh sahabat-sahabat PMII. Sensasi kebersamaan dengan join kopi, yang akhirnya dapat melahirkan sebuah ide gagasan yang tertuang diantara seruput hangat kopi. Bagi sahabat-sahabat PMII Bekasi, baik dia perempuan maupun laki-laki bukan menjadi hal yang tabu meminum kopi diri satu cangkir yang sama, bersama-sama, sambil membuka obrolan dan diskusi. Diskusi dan kopi hitam menjadi hal yang tak terpisahkan dari PMII, Maka dari secangkir kopi terciptalah value dan symbol kebersamaan dan kesetaraan dalam PMII.
Pembahasan yang terasa menarik menurutku tadi malam adalah tentang value, mitos dan simbol Yang biasanya dimiliki oleh setiap oragnisasi, seperti sahabat Hasan memberikan contoh kaum nasionalis memiliki value marhaenisme, dengan didahului oleh mitos pertemuan antara Soekarno dengan seorang petani bernama Marhaen, dan lalu terciptalah symbol bahwa kaum nasionalis itu adalah pembela wong cilik, hal itu yang akhirnya tertanam dalam diri setiap kaum nasionalis. maka perserta diminta mengungkapkan secara personal tentang Value, Mitos dan symbol menurut pengalaman masing-masing yang tak terlupan dari PMII yang membuat ia akhirnya memilih PMII dan tetap bertahan di PMII. Peserta pun diminta menuliskanya di selembar kertas, dari banyak pemaparan sahabat-sahabat, ada satu yang menggelitikku yaitu mitos yang di sebutkan oleh sahabatku dari cabang yang sama denganku (cabang Bekasi) tadi malam tentang pengalaman yang membuatnya jatuh cinta dan selalu cinta dengan PMII adalah kopi. Sederhana terdengarnya, namun ada makna romantisme yang tercipta begitu lekat. Bukan hanya karena warnanya yang hitam pekat dan rasanya yang exotis, tapi kopi menciptakan banyak sensasi yang dirasa oleh sahabat-sahabat PMII. Sensasi kebersamaan dengan join kopi, yang akhirnya dapat melahirkan sebuah ide gagasan yang tertuang diantara seruput hangat kopi. Bagi sahabat-sahabat PMII Bekasi, baik dia perempuan maupun laki-laki bukan menjadi hal yang tabu meminum kopi diri satu cangkir yang sama, bersama-sama, sambil membuka obrolan dan diskusi. Diskusi dan kopi hitam menjadi hal yang tak terpisahkan dari PMII, Maka dari secangkir kopi terciptalah value dan symbol kebersamaan dan kesetaraan dalam PMII.
Komentar
Posting Komentar