Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2010

Kritik Kecil dari Perempuan Kecil

Pada tanggal 23 s/d 25 November aku diajak untuk menghadiri kongres Perwanas ke XIII di Graha Insan Cita Depok. Setalah tiga hari mengikuti acara tersebut banyak hal terasa cukup menggelitikku sebagai perempuan kecil ikut dalam arena wanita-wanita yang telah banyak makan asam garam dunia perpolitikan se-Indonesia. Dalam benakku sebelum berangkat, aku akan bertemu dan melihat pertarungan politik wanita-wanita nasionalis yang tentu saja akan sangat menarik bisa ikut di dalamnya. Sebenanya acara ini dimulai dari hari senin, tapi karena ada beberapa sebab aku baru bisa berangkan pada hari selasa, hari kedua itu diisi dengan dialog public masih dengan tema wanita dan politik. Tapi lain di angan, lain kenyataan, sejak tiba yang tersaji adalah seperti melihat ibu-ibu arisan saja. Ah, gaya- ibu-ibu tetap saja demikian. mau seperti apa sebenernya perempuan di dunia politik? Apa yang bisa aku pelajari dari mereka? Jujur saja, aku lebih suka jika tidak ada lagi islitilah perempuan berpolitik,...

Dunia Albert

• Selasa lalu, ketika hari libur bertepatan tahun baru Islam. Kakiku tergerak untuk mengunjungi adik-adikku di panti asuhan, tempat tinggalku dulu. Sudah empat tahun dari kelulusanku dari SMA, aku hanya pernah mengunjunginya sekali, di tahun pertama, tiga tahun berselang baru ada niatan kemarin ingin berkunjung kesana. Padahal tempat tinggalku sekarang tidak begitu jauh dari asrama, masih di kota Bekasi, kota yang sudah ku jamah lebih dari 10 tahun, kota yang mendewasakan aku, kota yang ku puja dan ku caci, kota singgah yang penuh peluh, air mata, dan senyum masih menyusup dianataranya. o Sore itu ba’da magrib, aku minta seorang kawan mengantarkan aku kesana. Ketika sampai di depan gerbangnya, aroma masa lalu menyergap begitu lekat di kalbuku, menciptakan kerenyuhan yang amat jarang kurasai. Asrama ini sudah banyak berubah di banding waktu aku dulu tinggal disini 4 tahun yang lalu selama 6 tahun, dari lulus SD sampai lulus SMA. Tempa ini tampak lebih besar dan ada perubahan-perubahan...

cleo

aku telah ada untuk dunia kecilku menikmati setiap guratan nikmat dan luka, ku padukan menjadi buket penuh warna meronakan setiap langkah yang terlalui oleh kaki payahku, meski tak bisa jauh aq melangkah, tapi Tuhan begitu baik membukakan pintu2 yang bergam untuk ku masuki . ada senyum dan caci, ada takut dan keberanian tak terkira, aku mengacaknya dalam hari2qu, biar tak ada yg terlewat,biar semua ku nikmati, biar sekelilingqu menyaksikan betapa indah keberagaman.
sesantunku menghampirimu,, dan sepantasnya aku mengagungkanmu,, jika wangi malam saja tak ku anggap,, bagaimana kau bisa di sisiku,,, telah ku lewati gersang dan lembabnya hari,, telah ku lewati gelap dan terangnya sinarmu,, telah ku lewati duka dan senyum yang kau persembahkan,, dan langit mengawalku ke sisimu tapi renunganku tak pernah sampai,, masih terpaku pada dinding angkuhku jika bisa kusemai indah ini dengan namamu mengapa aku terbiarkan sendiri??? apa engkau memang tak berwujud,,?

Rumah Tua

Rumah ini adalah tempat bernaungnya asa Dimana mimpi-mimpi kita rangkai disini Tergambar indah disetiap dindingnya Apapun yang akan terjadi nantinya Rumah ini tidak akanpernah mencela Ia membiarkan kita menjadi dewasa Meraih asa-asa yang menggantung di langit Sesuatu mungkin akan menimpa kita Yang akan membuat kita meninggalkan rumah ini Rumah diantara rindang pohon, yang hujan turun disetiap tahun Lalu kita kembali dengan berkantung-kantung Asa yang telah kita raih Rumah ini akan menjadi tua Tapi ia takan pernah mati Meski kita tak lagi menghuninya Karna kita telah kembali ketanah Meraih cita-cita terakhir kita

Pesan untuk SAng Perangkai

Rangkaian tentang kabut senja dan malam terlebih, mana yang akan merajuk pada temaram? sudah biasa kita menyaksikan pongah dan ambisi pada sekelumit harap yang mendilema ada takut yang menjadi kekuatan ada bisik yang seolah teriakan ada kosong dalam harapan tak berucap bukan berarti mendusta hanya ingin kau tau bukan dariku biar tau dari angin, atau,,, riak air yang berbisik ucapkan padamu wahai pecinta... dimabukkah dirimu ?? hingga kalut pada rasa kau perangkai kata yang ulung mangapa takut pada senyum seorang gadis? kembali saja sembunyi di ketiak indukmu dan menengadah hanya pada waktu tertentu tak perlu mendamba, tak perlu memuja gerhana saja datang jarang-jarang badai saja tak selalu berulang-ulang sekali saja untuk ini, kau tampil bagai arjuna setelah itu semaumu lagi seperti ku berujar seperti kau hasratkan tak peduli kau harus mematikanya atau kau disambut dekapan hangat setelah itu ini perjalanan panjang, pernah ku lewati berkerikil dan berpeluh ...