Dunia Albert

• Selasa lalu, ketika hari libur bertepatan tahun baru Islam. Kakiku tergerak untuk mengunjungi adik-adikku di panti asuhan, tempat tinggalku dulu. Sudah empat tahun dari kelulusanku dari SMA, aku hanya pernah mengunjunginya sekali, di tahun pertama, tiga tahun berselang baru ada niatan kemarin ingin berkunjung kesana. Padahal tempat tinggalku sekarang tidak begitu jauh dari asrama, masih di kota Bekasi, kota yang sudah ku jamah lebih dari 10 tahun, kota yang mendewasakan aku, kota yang ku puja dan ku caci, kota singgah yang penuh peluh, air mata, dan senyum masih menyusup dianataranya.

o Sore itu ba’da magrib, aku minta seorang kawan mengantarkan aku kesana. Ketika sampai di depan gerbangnya, aroma masa lalu menyergap begitu lekat di kalbuku, menciptakan kerenyuhan yang amat jarang kurasai. Asrama ini sudah banyak berubah di banding waktu aku dulu tinggal disini 4 tahun yang lalu selama 6 tahun, dari lulus SD sampai lulus SMA. Tempa ini tampak lebih besar dan ada perubahan-perubahan di beberapa sudut, tapi rumah Buya, pemilik yayasan ini, masih berdiri dengan bentuk yang sama di samping kanan gedung asrama, lalu di sebelah kanan rumah Buya adalah gedung SMP tempatku sekolah dulu, hanya catnya saja yang berubah.

o Dari depan rumah Buya kudengar seorang anak remaja memanggilku “Teh ita...!” ah, aku tahu siapa dia, sepupuku yang ku tinggalkan disini empat tahun yang lalu, dia memanggil nama kecilku, nama yang hanya biasa dipanggil oleh keluargaku di Bogor, ”kemana aja teh, ga pernah kesini?” Aku hanya menjawab sekedarnya, karena akupun tak tahu alasan tepat mengapa aku tak pernah berkunjung. Rasanya berat sekali kakiku untuk ku langkahkan ke tempat ini, tak terasa sudah empat tahun. Sepupuku Neng Linda, sekarang sudah kelas 2 SMA, dulu saat aku lulus SMA dan sudah siap-siap meninggalkan asrama ini, aku membawanya dari Bogor ke tempat ini dengan seorang lagi anak teman ayahku, mereka baru lulus SD dengan harapan mareka berdua bisa melanjutkan sekolah sepertiku. Jahatnya aku, setelah meninggalkan tempat ini, aku malah tidak pernah mengunjungi mereka. Untung saja mereka bisa melewati semuanya sampai hari ini. Karena seperti pengalamanku hari-hari di asrama sangat berat.

o Di samping sepupuku ada anak kecil kira-kira usianya 6 ahun, dia terlihat asyik sendiri, tanpa memperduliakan kehadiranku, anaknya tampan, sekilas tak tampak berbeda dengan anak-anak pada umumnya, hanya kecuekannya saja yang mengusikku. “ini siapa neng?” tanyaku pada sepepuku.”namanya Albert, teh. Anak panti juga”. saat ku tanya sudah kelas berapa, anak itu tak menghiraukanku, baru aku tahu keganjilannya saat sepupuku menjelaskan “Albert autis, dia ga sekolah”. Anak itu dititipkan orang tuanya ketika berumur 2 tahun, tepat di tahun pertama aku meninggalkan panti asuhan. Entah karena latar belakang apa keluarganya menitipkan dia disini. Dari penuturan sepupuku, saat itu belum diketahui dia memiliki kelainan. Baru di tahun-tahun berikutnya, orang-orang disini merasa Albert berbeda dengan anak-anak yang lainya, ia belum juga bisa bicara, sekarangpun hanya beberapa kata yang ia tahu dan bisa ucapkan.

o Sepupuku juga menjelaskan pihak yayasan tidak mampu menyekolahkan Albert di sekolah khusus bagi penyandang autis, bagi panti asuhan yang hanya mengandalkan donatur dan harus menghidupi serta menyekolahkan sekitar 46 orang anak di asrama tersebut meresa biaya sekolah autis terlalu tinggi, maka Albert hanya di urus dan di ajar oleh sepupuku dan seorang lagi anak panti yang sudah duduk di SMA. Sepupuku dan temannya secara khusus ditugaskan untuk merawat Albert, mereka bertiga tidak tinggal di gedung asrama panti asuhan, tetapi tinggal di rumah Buya samping kanan gedung asrama, mereka hanya mengajarkan Albert sebisa mereka, karena mereka tidak memiliki pengetahuan khusus tentang anak autis.

o Sebenarnya banyak yang ku temui saat aku berkunjung kesana, tapi yang paling menarik perhatianku, adalah Albert, wajahnya yang lucu, dan keacuhanya terhadap orang-orang sekitanya. aku sendiri tidak banyak tahu tentang autisme. Jika teman-teman yang membaca postingku ini, meemiliki informasi yang berkenaan sekolah penyandang Autis yang bisa di akses tanpa biaya. Mungkin bisa menginformasikanya atau mungkin mau berkunjung langsung ke asrama yang ada di jl. Baung raya ujung no.39 perumnas 2 Bekasi Selatan.

o Aku pun tidak terlalu banyak tahu apa yang sebenarnya terjadi, karena aku hanya bertanya pada sepupuku, tapi yang pasti disanalah Albert tinggal dan melewati hari-harinya yang kita tidak pernah tahu bagaimana hari esoknya, ia terlalu sibuk dengan dunianya, dunia yang tidak kita pahami atau mungkin ada yang paham, jika ada, tengoklah Albert. (Anita Van Buitenzorg)

Komentar