Kritik Kecil dari Perempuan Kecil

Pada tanggal 23 s/d 25 November aku diajak untuk menghadiri kongres Perwanas ke XIII di Graha Insan Cita Depok. Setalah tiga hari mengikuti acara tersebut banyak hal terasa cukup menggelitikku sebagai perempuan kecil ikut dalam arena wanita-wanita yang telah banyak makan asam garam dunia perpolitikan se-Indonesia. Dalam benakku sebelum berangkat, aku akan bertemu dan melihat pertarungan politik wanita-wanita nasionalis yang tentu saja akan sangat menarik bisa ikut di dalamnya.

Sebenanya acara ini dimulai dari hari senin, tapi karena ada beberapa sebab aku baru bisa berangkan pada hari selasa, hari kedua itu diisi dengan dialog public masih dengan tema wanita dan politik. Tapi lain di angan, lain kenyataan, sejak tiba yang tersaji adalah seperti melihat ibu-ibu arisan saja. Ah, gaya- ibu-ibu tetap saja demikian. mau seperti apa sebenernya perempuan di dunia politik? Apa yang bisa aku pelajari dari mereka?

Jujur saja, aku lebih suka jika tidak ada lagi islitilah perempuan berpolitik, politik perempuan, oraginisasi khusus perempuan, atau apalah. Bukan tidak suka melihat perempuan masuk ke ranah politik, aku sendiri malah bercita-cita masuki dunia itu. Tapi Hari ini, bukan lagi bicara tentang pengkotak-kotakan perempuan dan laki-laki di dunia organisasi dan politik. Jika perempuan sudah berani memasuki dunia politik, ya dunia politik, bukan hanya politik perempuan saja yang diurusi, tapi general, keseluruhan, laki-laki dan perempuan, karena persaingannya pun tidak hanya dengan perempuan, tapi laki-laki juga. Semakin perempuan hanya mengurusi organisasi perempuan, menurutku itu akan membuat perempuan semakin tertinggal dengan laki-laki. Perempuan tidak akan bisa mengejar ketertinggalan yang sudah sedemikian jauh, belum lagi, ruang perempuan yang di batasi urusan-urusan domestic, yang menyebabkan perempuan yang ingin exist di dunia organisasi dan politik, harus memiliki beban ganda, apalagi bagi perempuan yang telah berumah tangga. Aku berharap ruang yang telah terbuka ini untuk perempuan, tidak malah menjebak mereka pada ruang politik yang berkelamin perempuan. Politik itu tidak berkelamin, orang yang tidak memiliki kelaminpun boleh berjibaku di dalamnya. Jika banyak orang mengatakan perempuan dan laki-laki memiliki psikologi bawaan yang berbeda yang menyebabkan perempuan menjadi subordinasi laki-laki dan tak mampu menjadi rival seimbang di ranah public khususnya ranah organisasi dan politik, sehingga perempuan membuat/dibuatkan wadah tersendiri untuk menyalurkan hasrat politiknya. Maka, tak kan pernah terwujud kesetaraan itu. Jika memang perempuan merasa siap memasuki dunia organisasi dan politik Lupakan perbadaan, membaur dalam wadah yang sama, mengurusi urusan yang sama, percaya diri untuk bersaing sehat, berbagi peran, dan bersama-sama menentukan langkah terbaik untuk dunia yang lebih baik. (AVB)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ANALYSIS OF THE ELEMENTS IN JAMES BALDWIN’S SHORT STORY SONNY’S BLUES

Woman Hurt

INDIRA (part I)