Postingan

Menampilkan postingan dari 2011

Keretaku Terus Melaju (Indira part II)

Keretaku terus melaju, meski kadang harus berhenti di tempat yang bukan stasiun. Kadang di tengah hutan, kadang di tengah sawah, Maklum lah kereta yang ku tumpangi adalah kereta ekonomi yang mesti mengalah dan mendahulukan kereta kelas diatasnya. Belum lagi penumpang yang over load, penjaja makanan yang tak henti lalu lalang, aku benar-benar tak bisa memejamkan mata. Aku sedikit siaga, Aku tidak mau kehilangan barang-barang yang ku bawa, meskipun tak seberapa nilainya, tapi itu adalah modal hidupku untuk beberapa bulan ke depan. Baru saja ada ibu-ibu berteriak kejambretan, aku sempat was-was, apa lagi aku sendirian, perempuan pula. bapak-bapak di sampingku mengingatkan. “hati-hati De, kereta ekonomi memang begini, tapi masih untung jambretnya ketangkep” terang bapak itu dengan logat jawanya yang medok. “ia pak, makanya saya ga bisa tidur” “sendirian saja? Mau kemana?” “ia sendiri, mau ke Kediri, bapak sendiri mau kemana?” tanyaku mulai percakapan dengannya, awalnya aku...

INDIRA (part I)

“pulang langsung kemana, In?” tanya Bayu selesai perkuliahan siang ini. “pasar” jawabku singkat sembari merapikan buku-buku. “ngapain? Blanja?” “kerja” “kamu kerja di pasar? Jadi apa?” “ya tukang jualan lah Bay” “jualan apa emang kamu Dir? Punya toko yah, toko apa?” “aku kerja di kaki lima, itupun bukan punya aku, jualan pakean dalem,, mau beli?” terangku agak sedikit kesal, selama ini memang tidak pernah ada yang tanya soal latar belakangku, Cuma si Bayu ini rada nyolot dan ngeselin pengen tau terus urusanku. “masa sih, kok kamu bisa kulyah?” tanyanya masih tidak percaya. Aku tidak suka orang terlalu banyak tahu soal hidupku, memang mereka mau apa? Atau mungkin aku sedkit malu dengan kondisiku sendiri, sedang akupu tak pandai berbohong. Aku memang hidup sendiri di kota ini melanjutkan kuliah dari hasil kerjaku di kaki lima, dengan membantu sebuah keluarga Minang yang berjualan pakaian dalam di atas lapaknya, keluarga yang sangat baik, mengijinkan ku...

MENGAPA DINAMAKAN SUMPAH PEMUDA?

Mengapa Sumpah pemuda? Bukan supah pemudi atau penggabungan keduanya? Pertanyaan ini sama seperti pertanyaan saya di kelas sastra Inggris, kenapa “orang” dalam bahasa inggris disebut juga “man” yang berarti lain adalah laki-laki, dan bukan “women” yang berarti juga wanita, atau sebutan dia untuk Tuhan dalam bahasa Inggris desebut dengan “He” yang berarti juga dia untuk laki-laki, dan bukan memakai “She” yang berarti juga dia untuk perepuan. Dan dosen saya tidak pernah berhasil bisa menjawab, dan malah menyuruh saya mencari jawabannya sendiri dengan memcari di perpustakaan-perpustakaan yang menyimpan buku-buku satra Inggris lama. Sumpah pemuda, peristiwa yang telah berlalu 83 tahun yang lalu, apakah ketika itu tidak ada perempuan yang turut serta? Dalam peristiwa yang menjadi tonggak awal proses kemedekaan bangsa Indonesia, dimana kaum muda dari seluruh penjuru nusantara berkumpul, menyatukan tekad, merumuskan kesatuan. Dari sejarah yang saya baca, perempuan ikut juga dalam peristiwa...

Something

sesuatu.... membuat anganku menari melewati serpihan dan noda yang membaur aku menyentuh rasa yang berbeda ketika ku lewati hamparan hijau layaknya permadani ku hirup wangi tanah,,, lembut tak ada debu, tak ada bau tak ada sesak mataku terpejam, lalu mataku kembali layar memberiku gambaran,,, ada senyum, ada tawa, ada semangat, ada haru hujan dan petri terdengar merdu sungai meluap membawa cinta angin berlarian membawa kehangatan dan aku didekapnya, penuh rasa tak mampu kuuraikan sesuatu,,, membuat aku harus berlari dan tertinggalah yang indah yang kurasa mataku menatap langit hitam, bukan malam, bukan mendung, ada tangis, ada putus asa, ada dunia yang kejam (SMAN 4 bekasi, 24 februari 2005)

Woman Hurt

Ia tak terlihat, tapi begitu menyakitkan Bisakah mereka yang tak tau tak usah bicara? Seolah mersai apa yang kurasa Kedukaan tiap waktu siap datang Dengan kelamahan yang Tuhan ciptakan untukku Apa tak kuasa melawan atau di takdirkan tak melawan Ini tentang begitu banyak aku yang merasai Ketidak adilan dunia padaku Pada kelembutanku, pada kepatuhanku Aku tak ingin berdiri disini, terdakwa sekaligus korban Atas siapa aku mesti berjuang Aku ada banyak, mengapa mereka diam Bersamaku lah kita merenda Tentang kepahitan yang sehrusnya tak kita telan Tentang cabikan-cabikan yang tak semestinya mengenai kulitku yang lembut

Kopi dan Mitos PMII

Tadi malam sampai menjelang subuh beberapa pimpinan cabang dan coordinator cabang PMII dari seluruh Indonesia berkumpul disalah satu auditorium di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) dalam acara Pra Kongres yang diadakan PKC Jakarta, sebenarnya acara tersebut sudah berlangsung dari hari kamis, namun kebetulan saya baru berkesempatan ikut tadi malam. Tema Pembahasan malam tadi adalah tentang tata kaderisasi PMII yang difasilitatori oleh sahabat Hasan mantan Pengurus Besar PMII sekaligus pengarang buku Multi Level Strategi. pembahasan dimulai dengan para peserta diminta mengisi kuesioner tentang kekurangan dan penambahan poin apa saja yang diperlukan pada buku Multi Level Strategi yang selama enam tahun belakangan ini digunakan sebagai buku acuan kaderisasi PMII, lalu diskusi bergulir pada pemaparan secara lisan oleh para peserta yang notabene adalah pemimpin di cabangnya masing-masing, tentang permasalahan kaderisasi di setiap local. peserta juga menyampaikan beberapa kekurangan dalam ta...

(07.00 Thusday, 06-01-11) Gud Morning..!

Sebuah harapan terkembang diantara Embun dan dedaunan Menyambut senyum burung kecil yang belajar terbang Dingin menusuk terasa kawan ia membawa pesan untuk berangkulan Meniti hari entah cerah atau kelabu Pada apa kita menaruh asa? Pada sesuatu yang tak kita lihat namun terasa menyentuh setiap bilik terdalam di ruang imaji Pagi akan selalu datang meski pun pasti berbeda Jika waktu yang lalu adalah pagi penuh gundah berurai air mata karena perih begitu menyiksa Jika dilain lagi kita tidak menemukannya Hanya menemukan kelembutan yang meronakan senyum,,, tersenyumlah Jika belum, mungkin pagi esok, lusa atau kapanpun Berharaplah pagi membawa asa baru Selama Tuhan izinkan kita menghirup udaranya yang lembab Dan berharap pada yang tak pernah kita lihat, Bukanlah mustahil….