Keretaku Terus Melaju (Indira part II)

Keretaku terus melaju, meski kadang harus berhenti di tempat yang bukan stasiun. Kadang di tengah hutan, kadang di tengah sawah, Maklum lah kereta yang ku tumpangi adalah kereta ekonomi yang mesti mengalah dan mendahulukan kereta kelas diatasnya. Belum lagi penumpang yang over load, penjaja makanan yang tak henti lalu lalang, aku benar-benar tak bisa memejamkan mata. Aku sedikit siaga, Aku tidak mau kehilangan barang-barang yang ku bawa, meskipun tak seberapa nilainya, tapi itu adalah modal hidupku untuk beberapa bulan ke depan. Baru saja ada ibu-ibu berteriak kejambretan, aku sempat was-was, apa lagi aku sendirian, perempuan pula. bapak-bapak di sampingku mengingatkan.

“hati-hati De, kereta ekonomi memang begini, tapi masih untung jambretnya ketangkep” terang bapak itu dengan logat jawanya yang medok.

“ia pak, makanya saya ga bisa tidur”

“sendirian saja? Mau kemana?”

“ia sendiri, mau ke Kediri, bapak sendiri mau kemana?” tanyaku mulai percakapan dengannya, awalnya aku takut bercakap-cakap dengan bapak ini, tapi ku perhatikan sepertinya dia orang baik. Aku kadang memang terlalu over, aku takut berbicara dengan orang baru di kereta seperti ini.

“ mau pulang ke Lamongan. Saya dari Jakarta”.

“Lamongan sama Kediri mana yang duluan sampe Pak?”

“pasti Lamongan dulu lah dek, memang ade baru pertama ya ke Kediri?”

“betul Pak, pertama ke Kediri, pertama ke Jawa Timur juga”.

“saya mau tidur dulu yah dek”

“oh, iya pak silahkan” .

Waktu telah menunjukan pukul tiga dini hari, mungkin jika tepat waktu keretaku akan tiba jam lima subuh. Aku sudah menghubungi sahabatku di Kediri, dia akan menjemputku di stasiun setibanya aku nanti.

Ini perjalanan pertamaku ke Jawa Timur, dan Kediri adalah Kota pertama yang akan ku kunjungi. Dengan membawa sebuah koper dan tas kecil berisi dompet dan phonsell, aku berencana berada di sana selama beberapa bulan. Ini adalah keputusanku, untuk memanfaatkan waktu dan melupakan semua problematika di Bekasi. Desa Tulungrejo yang ku tuju, dengan berbekal info dari internet dan beberapa teman, aku akan belajar disana, mengasingkan diri mungkin tempatnya. Setelah banyak hal yang terjadi, aku ingin menenangkan diri. Akhir-akhir ini aku memang mulai muak dengan Bekasi .

Bapak di sampingku tertidur cukup pulas. Aku duduk tepat di dekat jendela, maka ku bisa melayangkan pandangku bebas ke luar sana, hanya saja di luar sana terlihat gelap, hanya lampu-lampu rumah warga berkedip-kedip kecil. Hujan mulai turun mungkin dari satu jam yang lalu, membuat udara di dalam kereta cukup dingin, tapi itu lebih baik, jika di bandingkan tadi waktu kereta baru sampai kota-kota di Jawa Tengah, udara sangat panas dan sesak.

Mataku benar-benar tak bisa ku pejam, aku teringat Bekasi yang baru beberapa jam ku tinggalkan. Ada luka di sana. Sengaja ku tinggalkan. Aku beharap luka itu tak turut serta dengan perjalananku. Biarkan aku melupakannya, aku berharap Tuhan menghargai usahaku, dan tidak membiarkan luka itu tetap membayang di tempat baruku nanti.

“Mas mau menikah Indi, dua bulan lagi”

“oh, ya? Selamat yah”

“kamu nda sedih tah?”

“berharap aku sedih? Toh kesedihanku takan mengubah keputusan mas”

“aku berharap bisa menikah sama kamu, seperti yang pernah kita bicarakan”.

“itu hanya obrolan biasa. Ku rasa kita tidak begitu serius saat membicarakan itu. aku juga tidak mungkin menikah secepat itu, harusnya mas bisa nunggu, tapi aku tak bisa memksa kamu untuk menunggu. Silahkan saja”.

“orangtua ku dan keluarga calon istri sudah bertemu, aku tidak mungkin membatalkannya”.

“aku paham, toh aku bukan pacarmu. Kamu punya hak untuk memtuskan apapun. Sudah lah mas, tak usah pasang muka sedih, aku tau kamu senang akan menikah dalam waktu dekat”.

“Indira, kamu begitu keras kepala, di saat terakhir pun kamu tetap tidak mau mengakui perasaanmu sendiri”.

Dialah Mas Bisma, teman sharing ku, abangku, sekaligus lelaki yang ku cintai. Usianya yang cukup jauh perbedaannya denganku, membuat dia terasa begitu dewasa di depanku. Aku tahu dia juga mencintaiku, tapi aku selalu menolak di ajaknya menikah. Bukan karena tak mau, tapi usiaku yang ku rasa masih terlalu muda, dan tentu saja, masih terlalu banyak mimpi yang belum ku gapai. Ia mengenalku begitu dekat, juah lebih dekat dari perempuan yang akan menjadi istrinya. Aku akan kehilangannya. Tapi aku tidak boleh kehilangan mimpi-mimpiku. Pernikahannya mungkin sekarang tinggal satu bulan lagi, tentu saja aku tak mau datang.

Laki-laki yang biasa bersamaku, mengajarkan aku banyak hal, yang aku harapkan lebih sabar menunggu kesiapanku. Dia akan naik pelaminan dengan perempuan lain, yang ku tahu baru di kenalnya beberapa bulan saja. Aku tidak mau menangis, sungguh. ini adalah bentuk tempaan lain yang menghampiriku, untuk kesekian kali.

Mataku mulai berair, entah karena mengantuk atau hatiku menghangat. Ku lihat jam di ponsel menunjukan pukul lima kurang sepuluh menit. Maka kurasa aku tidak akan sampai tepat jam lima pagi. bapak di sampingku sudah bersiap akan turun di Stasiun Lamongan sebentar lagi. “bapak duluan ya dek”.

“ia Pak hati-hati”.

“sudah ada yang jemput tah disana?” tanyanya seikit menghawatirkanku “sudah Pak, teman saya”.

“ya wis, syukur. Assalamualaikum”.

“walaikum salam”.

Bapak itu berjalan ke luar kereta, dengan membawa jinjingan dan tas ransel tua di punggungnya. Aku membayangkan bagaimana kota Kediri. Aku tidak punya saudara di sana. Kawan yang akan menjemputku pun baru pernah sekali bertemu, disebuah acara kemahasiswaan di Jakarta. Kami memang mengkuti organisasi kemahasiswaan yang sama, yang sering mengadakan acara-acara seminar, pelatihan atau workshop, yang akhirnya mempertemukanku dengan sahabat-sahabat dari kota-kota lain dari seluruh penjuru Nusantara. Bertukar nomer ponsel, adalah sebuah keuntungan lain yang bisa di peroleh, karena itu bisa ku manfaatkan jika hendak bepergian ke kota-kota baru yang belum pernah ku kunjungi dan tak punya saudara sama sekali, seperti kali ini. Atau untuk hal-hal yang lainnya.

Mentari mulai menampakan diri separuh badan. Pukul setengah enam lewat, sebentar lagi keretaku tiba di kediri. Ku SMS teman yang akan menjemputku. Aku mungkin sedikit lupa dengan wajahnya, tapi semoga stasiun Kediri tidak seramai stasiun-stasiun di Jakarta, jadi aku tidak akan bingung mencari. Sebuah pesan masuk di ponselku.

“misi” nomer tak bernama, ku balas “vissi”

“dsr aktifis pham bner visi-misi. pa kbar Indira Suu kyi Benazira?” dia menyebutku seperti username-ku di facebook.

“siapa yah?”

“kawan lama, teman insomniamu dari sebrang”

Senyumku mengembang hampir setengah tawa. Aku tau dia, meski hanya suaranya di ponsel dan gambar wajahnya di facebook.

Keretaku berhenti, ku lihat tulisan di stasiun “selamat datang di kota Kediri”. Aku telah sampai, cukup sepi. Aku duduk di kursi stasiun menunggu sahabatku datang. Aku tak sabar membalas pesan dari kawan lama itu. Kami dulu sering sekali bercakap-cakap di telepon sampai subuh datang. Tapi dia sempat hilang, nomer ponselnya tidak bisa dihubungi, facebooknya pun tidak pernah di update lagi. Kami tidak pernah bertemu muka, makanya aku tidak begitu memikirkan ketika akhirnya kami loss contact. Tapi kali ini aku sangat bersyukur pesannya muncul lagi di ponselku, jadi untuk sementara ini sebelum mendapatkan teman-teman baru di tempat tinggal baru, aku tidak akan merasa kesepian. Biasanya dia punya cara-cara jitu untuk menghibur. Semoga dia masih begitu.

Sahabatku datang membawa sepeda motor, kami pun bergegas meninggalkan stasiun setelah sahabtku membayar parkiran. Melihat tukang parkir, aku jadi ingat kata-kata kawan lama-ku itu.

“kita ini Cuma tukang parkir, yang harus menjaga kendaraan sebaik mingkin, kalo tuh kendaraan diambil sama pemiliknya, tukang parkir ga pernah sedih, orang dia Cuma dititipin ko. Sama dengan kita mencintai seseorang, slama di samping kita ya kita jaga, kalo orang yang kita cintai meninggalkan kita, ya gak sah sedih juga, orang Cuma tukang pakir ko, hehehehehe”. (avb) *********

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ANALYSIS OF THE ELEMENTS IN JAMES BALDWIN’S SHORT STORY SONNY’S BLUES

Woman Hurt

INDIRA (part I)