Perempuan Kembang Jepun
Perempuan Kembang Jepun (LAn Fang) Aku belajar bicara pada hening. Kerena sepi tidak akrab denganku. Kematian menciumku, maka merah flamboyan tak cukup terang nyalakan mataku Padahal denyar belum usai. Kuku kisruh masih mencakar-cakar. “andai semua makhluk yang bernapas bisa berterimakasih kepada kesalahan” begitu katamu “kamu baik, hormat, dan sayang padaku, dari dulu, sekarang dan semoga selamanya. Aku bisa mati tanpamu” jawabku pada kabut Karena kau adalah gonjang-ganjing kisruh yang membadai Seperti Isa berseru “Eli,Eli, Lama sabakhtani” darah pun mengucur dari lambungnya Apa yang harus kuseru jika lidah tertikam sepi yang enggan beranjak, kecuali mengadu pada lamunan “ nadaku sumbang suaraku pincang ini bukan lagu yang kumau Aku bukan SIddharta dan Kemala pun tidak Isa dan Maria Magdalena”. Lamunan menyul ap kisruhku menjadi harmoni. Biar sumbang, biar pincang, ada teduh setelah badai. Ia kembang yang mengajariku menyeruput segelas cokelat panas pelan-pelan agar nikmat...