Teruslah Bermimpi....
15 11 10
“Apa yang kau takutkan dengan semua ini// bukankah kesedihan sering kita alami// keadaan ini buat kita terbiasa// dengarkan ku bicara teruslah bermimpi// walau kenyataannya jauh berbeda// teruslah bermimpi, jangan berhenti// percayaalah… lelah ini hanya sebentar saja, jangan menyerah// walaupun tak mudah merainya// tetap tersenyumlah biar semakin mudah// karena kesedihanpun ternyata hanya sementara// menghentikan pikiran dengan mata terpejam// menunggu malam bisa hapus kenyataan// biar saja mimpi jauh membawa kita, owww yeah….”
(Teruslah Bermimpi, Ipank’s Song)
Pagi ini seperti biasa kuawali dengan secangkir kopi dan segenap harapan. Meskipun pernah dilarang berharap tapi ku pikir hidup takan indah jika tak menyisakan harap dalam benak. Maka ku biarkan diriku berharap, meski akhirnya harus menelan pahit, namun aku pernah mengecap manis “harapan”.
Ku nyalakan computer, berharap menemukan inspirasi baru untuk hari-hariku yg mulai jenuh. Ku pikir, tak selamanya aku akan terus jadi penikmat tulisan, aku harus bisa sedikit saja menjadi penyaji, meskipun tak serenyah yang biasa ku nikmati . ku mulai dengan tak biasa agar menjadi biasa, semua memang berawal dari tak biasa. Apa yang mesti kuceritakan masih sedikit samar, sesamar penglihatanku tanpa kacamata minus 3 ku.
Saat hitam kopi mengalir di tenggorokanku, ku teringat hidupku yang belum sampai sepermpat abad, namun kenapa aku merasa sangat tua? Perempuan seusiaku tak seharusnya seperti ini. Tapi inilah hidup yg mesti kunikmati dengan secangkir kopi di pagi hari sepulang dari pasar dengan sekeranjang daging dan sayuran. Lalu ku lewati siang dengan hiruk pikuk pasar tradisional. Menyuguhkan semangkuk soto dan aneka minuman segar. Inilah hidup, bukan mimpi. Tapi semua berawal dari impian, impian menjadi perempuan terhormat, bermartabat, bermanfaat.
Ku kayuh harapku hingga ujung tak bertepi, karena manusia memang tak pernah puas dengan satu pencapaian saja, ia terus akan merevitalisasi harapan-harapannya. Hingga ajal menjemput, tinggal berharap Tuhan tak murka dan memaksaku go to hell.
Akan ada banyak hal-hal yang menyesakan datang silih berganti, namun Tuhan selalu sediakan obat penawar yang ampuh, tak terbayang,dan magic. Seperti tadi malam, ketika hendak membantu kakaku memperbaiki Facebook-nya yang sudah satu minggu tak bisa dibuka, aku juga iseng membuka facebookku dan kutulis puisi di statusku. Ada komentar melalui chat, mengatakan sesuatu tentang puisiku, foto prifilku dan kesibukanku. Ah, ini memang biasa, tapi latarbelakang orang yang berkomentar itu yang surprise untukku. Seorang jurnalis. Entah dari mana dia datangnya, tapi sedikit menggelitikku dengan kejadian-kejadian belakangan ini. Tak berharap, tapi aku membiarkan imajiku melayang, meski tak terlalu tinggi.
Komentar
Posting Komentar