Mahasiswa Pekerja

MAHASISWA PEKERJA
Bekasi, bukanlah kota tujuan pendidikan bagi rata-rata orang yang merantau ke sini. mereka datang biasanya adalah untuk mencari pekerjaan, terutama menjadi buruh pabrik, seperti kita ketahui Bekasi merupakan tempat industry yang cukup besar di Indonesia. orang-orang datang ke Bekasi dengan harapan bisa mencari rejeki dengan bermodal ijazah setingkat sekolah menengah atas, lalu bekerja di pabrik-pabrik atau pusat-pusat perbelanjaan di kota pinggiran Jakarta ini. namun sebagai manusia yang terus ingin belajar mereka yang merantau hanya untuk bekerja juga akhirnya ada keinginan untuk melanjutkan pedidikan ke tingkat Perguruan Tinggi. Maka tidak sulit bagi mereka untuk mencari kampus yang bisa menyesuaikan dengan waktu kerja mereka. karna rata-rata perguruan tinggi di Bekasi biasa di sebut “kampus karyawan”, kampus yang dikhususkan untuk karyawan-karyawan yang ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. jadwal kuliah di kampus-kampus karyawan biasanya memiliki tiga kelas, pertama kelas pagi, untuk yang tidak bekerja atau mungkin bekerja tapi diwaktu siang, setelah perkuliahan normal. kedua kelas malam, untuk orang-orang yang jadwal kerjanya dari pagi hingga sore dan tidak berubah-ubah. dan untuk orang yang jam kerjanya berubah-ubah (Shift) ada kelas shift, jadi mahasiswa tersebut boleh masuk kelas malam atau masuk kelas pagi disesuaikan dengan jam kerjanya. pemilihan kelas-kelas ini telah di sepakati sebelumnya ketika awal masuk kuliah, karena untuk biaya semesternyapun akan berbeda. jadi tidak ada halangan bagi pekerja yang ingin melanjutkan pendidikannya sambil terus mengais rejeki di tempat kerjanya. semua bisa disesuaikan asal ada uang dan kemauan.

Seperti yang dialami Pipit, mahasiswa semester satu jurusan bahasa inggris yang juga seorang karyawan di pusat perbelanjaan di Cikarang, ia pertama kali datang ke Bekasi untuk mencari pekerjaan “saya pertama datang kemari belum ada niatan kuliah, Cuma pengen kerja aja. baru setelah dua tahun kerja, saya kepengen kuliah” jelas gadis asal Solo ini. kemudian ia memilih jurusan bahasa inggris yang ia rasa cukup banyak dibutuhkan di dunia kerja saat ini. sebenarnya tidak gampang juga kuliah sambil kerja, atau kerja sambil kuliah. Menurut Pipit banyak kendala yang harus dihadapi, namun karena memang sudah ada niat untuk memperoleh pendidikan yang lebih tinggi kendala itu tetap coba di jalaninya “susahnya banyak, waktu istirahat jadi kurang, udah ga bisa simpen dana, selain itu harus belajar dalam keadaan cape karna pulang kerja, tapi saya senang ko ngejalaninnya” terang mahasiswa yang mengontrak di Cikarang ini. begitu ada keingin untuk mendapatkan pendidikan lebih tinggi Pipit merasa wajar apabila harus ada pengorbanan baik itu dari segi waktu, maupun keuangan. dengan harapan apabila telah mengantongi ijazah Diploma Tiga ataupun Sarjana, ia bisa memperoleh pekerjaan yang lebih baik “ siapa sih yang mau seumur hidup jadi buruh kontrak? lagian kalau sudah tua juga gak ada perusahaan yang mau pakai tenaga saya, kalau kita sudah lulus kuliah gak kerja bisa ngajar, pokoknya peluangnya lebih banyak deh ’’ terang dara bernama lengkap Dwi Pitriyani ini. Pipit juga suka menengeluh tentang masalah biaya yang harus ia tanggung sendiri, ia di Bekasi ini memang benar-benar sendiri “saya gak punya saudara di Bekasi, jadi kalau lagi susah, gak ada saudara yang bisa di mintai tolong, kecuali teman, makanya saya berusaha biar punya teman banyak disini, biar kalau lagi susah jadi gampang” kata gadis berjilbab ini menerangkan .

Tidak jauh berbeda dengan kisah Eka Putri, mahasiswa semester lima jurusan bahasa Jepang ini, ia baru memutuskan kuliah setelah memasuki Usai 22 tahun atau sekitar 4 tahun setelah ia lulus Sekolah Menengah Atas (SMA). Eka yang melewati usia sekolahnya di kampung halamannya Padang Panjang, Sumatera Barat memutuskan untuk mencari kerja di pulau Jawa segera setelah ia lulus SMA, memang telah menjadi budaya orang Minangkabau (Budaya Leluhur Eka) untuk pergi dari kampong halaman dan merantau. sebelum tinggal di Bekasi dan indekos di di daerah Bantar Gebang, gadis berambut panjang ini juga pernah tinggal dan bekarja di kota Bandung selama dua bulan, baru kemudian pindah ke Bekasi dan tinggal di rumah salah satu kerabatnya di Duren Jaya Bekasi Timur. untuk masalah pekerjaan Eka tidak pernah pilih-pilih “yang penting kerjanya halal, apalagi nyari kerja sekarang ini gak gampang” jelas gadis pecinta kopi hitam ini, Eka pernah bekerja berjualan mainan di pusat perbelanjaan di kota bekasi, pernah juga jadi penjaga warnet di Rawa Mangun, dan terakhir ia bekerja di salah satu apotik di perumahan Kemang Pratama, Bekasi sampai sekarang. Kata Eka ia juga pernah kuliah di Universitas Terbuka, namun tidak ia lanjutkan “waktu itu kerjanya belum jelas, jadi saya masih ragu-ragu untuk serius kuliah” terang anak petani kopi di sumatera Barat ini. namun sekarang ia serius kuliah dan tinggal satu semester lagi ia akan wisuda. ketika memutuskan untuk kuliah di kampusnya sekarang ia juga memutuskan untuk indekos, dia memilih kosan yang jaraknya tidak jauh dari tempatnya bekerja dan juga tidak jauh dari kampusnya “ saya memilih untuk keluar dari rumah paman saya dan indekos, disamping agar lebih mengefisienkan waktu saya juga pengen lebih bebas, namanya juga tinggal sama saudara kan pasti banyak aturannya walaupun secara financial saya bisa sedikit berhemat” jelas mahasiswa diploma tiga STBA Cipto Hadi Pranoto ini. bebas menurut Eka bukan berarti ia bisa berbuat macam-macam yang tidak pantas, ia hanya ingin lebih leluasa menjalani kehidupanya dan menata cita-citanya.

Beda dengan gadis asal Tanah Batak, Ronauli Purba. gadis berkulit pitih ini, datang ke Bekasi, lalu tinggal di rumah kerabat orang tuanya dan langsung memasuki dunia perkuliahan tidak seperti Pipit dan Eka. Rona sapaan akrabnya, setelah lulus SMA di Sumatera Utara langsung pergi merantau ke Bekasi dengan niat untuk kuliah. namun tetap saja dengan harapan bisa sambil bekerja. dengan modal kepandaianya berbahasa Inggris Rona coba mengajar di tempat-tempat kursus, supaya bisa membiayai kuliahnya. saat ini ia telah memasuki tingkat dua Jurusan bahasa Inggris di kampus yang sama dengan Pipit dan Eka. perbedaan lainnya dari Rona, ia masih sedikit mendapat bantuan biaya kuliah dari kakaknya, sehingga dia memang tidak terlalu perlu kerja keras untuk mencari biaya kuliah “aku lebih focus ke kuliahku, karna niatan awalku memang kuliah, mengajar hanya untuk mengisi waktu luangku sepulang dari kampus, dan untuk cari tambahan juga tentunya, karna abangku juga ngasihnya kadang kurang dari yang aku butuhkan” terang Rona dengan logat bataknya yang masih kental. karena mengajar tidak terlalu memakan waktu seperti menjadi karyawan atau buruh pabrik Rona jadi memiliki waktu lebih luang, dengan waktu yang lebih luang itu Rona menyempatkan diri untuk aktif di kegiatan paduan suara di kampusnya. ia memiliki suara yang cukup bagus, menurutnya itu di perolehnya karena ia juga rajin ikut paduan suara (Padus) di Gereja sejak ia kecil. keaktifannya di Padus membawa ia sering di ikutsertakan kedalam acara-acara seremonial yang diadakan oleh kampus “lumayan juga sih suka dapat honor, kalau habis ikut acara padus di wisuda atau ospek” kata dara usia 20 tahun ini. Rona memilih Bekasi, karna kebetulan ada saudara orang tuanya yang tinggal di Bekasi, berbeda dengan Eka yang akhirnya lebih memilih indekos, Rona tetap bertahan di kediaman saudara orang tuanya di Perumnas 1 (satu) Bekasi Selatan ”memang banyak aturan kalau tinggal di rumah saudara, tapi dari pada aku ngekos, honor ngajarku kan juga tidak seberapa, mana cukup toh? lagian orang tua pasti tidak setuju kalau aku tinggal sendirian tidak ada yang mengawasi” terang Rona. Selain itu dia juga belum lama tinggal jauh dari orang tua, “baru mau masuk dua tahun aku meninggalkan kampong halaman, aku juga belum terlalu memahami lingkungan di Bekasi, beda sekali dengan kampong halamanku di yang masih pedalaman di Sumatera, tapi tidak tahulah kalau sudah lama disini dan sudah mendapat honor lebih baik” jelas anak petani dari Sumatera Utara ini. Rona memiliki harapan dan cita-cita setelah menyelesaikan Strata satunya di Bekasi ia dapat kembali ke kampung halamannya dan bekerja menjadi guru atau kerja-kerja lain yang bermanfaat untuk mengembangkan desanya.

Kesamaan Dari ketiga mahasiswi ini, meskipun mereka datang ke Bekasi dengan latar belakang daerah yang bebeda, Budaya yang berbeda tentunya lalu ketiganya memutuskan untuk kuliah di Bekasi, kesamaan mereka yang tidak bisa di pisahkan dari diri mereka adalah semangat mereka untuk mengejar pendidikan. yang mengharuskan mereka bekerja pastilah faktor ekonomi keluarga yang tidak memungkinkan mereka untuk menikmati masa perkuliahan sama seperti mahasiswa-mahasiswi pada umumnya, tidak perlu bekerja dan tinggal menunggu pemberian orang tua untuk biaya kuliah, bagi mereka tidak menjadi soal kalaupun untuk kuliah mereka harus bekerja terlebih dahulu. karena dalam sanubari mereka ada cita yang yang diharapkan bisa terwujud dengan ilmu yang mereka peroleh dengan kerja keras, belajar keras, dan keberanian meninggalkan kenyamanan. dan yang perlu di garis bawahi ketiganya dalah perempuan, mereka telah menggugurkan pandangan stereotipe bahwa seorang perempuan itu lemah dan tidak memiliki keberanian seperti laki-laki, serta tidak berhak memperoleh pendidikan tinggi. stereotype semacam itu lambat laun akan memudar dengan sendirinya, apabila kaum perempuan di seluruh Indonesia punya keinginan dan kesempatan seperti Pipit, Eka dan Rona.

Pepatah mengatakan hiduplah seperti air, yang selalu bergerak tak pernah benar-benar bisa di bendung, ia akan terus mencari celah sekecil apapun untuk melewati bendungan yang menghalangi alirannya, dan ketika tidak ada celahpun ia akan merubah diri menjadi awan, terbang ke langit dan turun ke bumi menjadi hujan, begitu seterusnya tanpa henti. pilosofi itu juga mungkin yang di pakai Pipit, Eka, Rona ataupan mahasiswa-mahasiswi pekerja lainnya.

Komentar

  1. Menyentuh hati pepatah filosopi air. Kapan ya aku bisa merantau ke bekasi? As soon as posibble

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bekasi selalu terbuka untuk perantau, merantau mengajarkan kita untuk bisa lebih tangguh.

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

ANALYSIS OF THE ELEMENTS IN JAMES BALDWIN’S SHORT STORY SONNY’S BLUES

Woman Hurt

INDIRA (part I)