Miss Kim
(16 11 10)
Hari kemarin cukup lucu,. Aku seperti menonton drama korea secara langsung (serial drama Korea is my favorite). Berawal dari kakaku (tetangga rumah yang ku anggap kakaku) memintaku menemaninya memasang gorden pesanan di rumah pasangan orang Korea yang katanya baru pindah dari Seoul dua minggu yang lalu. Kakaku tau aku kuliah di jurusan bahasa Inggris, jadi dia memintaku menjadi penterjemah karena sang pemesan hanya bisa bahasa Korea dan Inggris. Kakaku tak tau bahasa Inggrisku masih sangat amburadul, tapi karena aku penasaran ingin melihat langsung orang Korea tidak dari layar televisi saja, maka ku setujui untuk menemaninya seharian memasang gorden di rumah baru Miss Kim yang ada di perumahan mewah di bilangan Tambun Selatan itu. Saat bertemu dengan Miss Kim, ia cantik terlihat lebih muda dari usiannya, dia mengenakan pakaian santai kaos oblong dan celana legging, ia cukup ramah dan terlihat tidak sombong lalu kusapa dengan ‘hanyang haseo’ yang ku tahu artinya adalah ‘hello’ dia langsung terkesan, dikiranya aku bisa bahasa Korea, tapi ku jelaskan aku hanya tahu sapaan itu karena sering menonton serial drama Korea di TV. Lalu kami pun berbincang dengan bahasa Inggris kami yang sama-sama masih terbatas. Info yang ku peroleh dari penjaga rumahnya ia adalah anak pemilik garmen yang ada di Sumedang, dan suaminya di tugaskan ayahnya untuk mengurusi garmen tersebut, mereka baru dua minggu menikah di Seoul langsung pindah ke Indonesia dan menyewa rumah di Bekasi untuk dua tahun.
Dari perbincangan kami, aku pun tahu banyak yang dia tidak suka dari Indonesia, mulai dari hewan-hewan tropis yang biasa berterbangan dan melata seperti kupu-kupu dan cicak, terlihat sekali di sangat jijik setiap kali hewan-hewan itu terlihat oleh matanya, dia langsung menjerit dan berlarian seperti anak kecil, aku hanya bisa tersenyum dan menjelaskan binatang-binatang itu tidak akan menyakitinya, tapi itu tak membuat ketakutannya hilang, dia mengatakan di Korea tidak banyak binatang-binatang seperti itu. Belum lagi musim dan cuacanya yang panas dan berdebu membuat kulitnya alergi, dia menujukkan bercak-bercak merah di bagian lengannya. lalu merambat pada orang-orangnya yang menurutnya not clean and dangerous, sering menatap dia dengan tatapan aneh (tapi dia memujiku dan kakaku yang menurutnya rapih dan ramah). Lalu ku jelaskan dengan inggrisku seadanya, orang Indonesia tidak seperti yang dia bayangkan itu terjadi karena dia belum terbiasa dan juga belum saling mengenal, jika sudah saling mengenal orang Indonesia sangat friendly.
Sebenarnya dalam hatiku, aku ingin mengatakan ‘ah, itu tak aneh Miss, kalian adalah kaum kapitalis yang hanya memperbudak rakyat Indonesia dengan pabrik-pabrik yang kalian dirikan, memberi upah sangat rendah dan meraup keuntungan sangat besar. kalian datang ke Indonesia langsung tinggal di perumahan mewah yang sewanya saja 60 juta/tahun, dengan penjagaan security yang ketat dan tak sembarang orang bisa masuk kedalam, sedang rakyat Indonesia hanya jadi kacung-kacung kalian, hidup di emperan terpinggirkan karena tidak mampu bersaing dengan kalian pemodal-pemodal asing yang di biarkan begitu mudah masuk ke negeri yang katanya kaya raya namun miskin raya ini, oleh pemerintah kami yang korup. pantas saja mereka menatap kalian dengan tatapan sinis’.
Bangsa besar ini masih harus jadi pembokat di negerinya sendiri, menatap iri pada kesenjangan yang terjadi namun tidak bisa berbuat banyak. Karena Pemerintah kita tidak begitu simpati dengan kondisi rakyatnya, mereka lebih memilih jalan instant dengan membiarkan pemodal-pemodal asing masuk ke Indonesia , memperkaya diri pribadi tanpa peduli kondisi rakyat yang semakin terpuruk.
Ah Miss Kim, Semoga kau terbiasa dengan pemandangan itu. nice to meet you!
Komentar
Posting Komentar