My story with him *parth one*

sudah cukup lama tidak membuat tulisan di Blog, mungkin hampir mati. hahahahaha. tapi tiba2 ingat cerita di buku mba Asma Nadia, perempuan haruslah sering2 menulis, minimal tentang hidupnya.

hari ini tepat 90 hari saya tinggal di Medan, kota yang sebelumnya baru 1 kali saya kunjungi, itu pun dengan tujuan menemui pacar yang sekarang jadi suami saya. ya, saya sudah menikah sekarang, baru menginjak bulan ke 3, perjalanan cinta kami yang cukup singkat akhirnya membawa kami ke dalam biduk rumah tangga. banyak yang heran dengan proses perkenalan kami, ketika ku ceritakan bagaimana kami akhirnya bisa menikah. 

dia(suamiku) adalah orang yang belum pernah ketemui hingga masa pacaran kami menginjak bulan ke 7, kami dikenalkan oleh seorang teman, yang sebenarnya temanku itu jg belum pernah bertemu dengan dia, mereka hanya berkomunikasi lewat jejaring sosial (facebook), telepon, mereka suka share masalah pribadi masing2. dia mulai mengeluh ketika temanku itu sering meneleponnya untuk curhat tentang hubungannya dengan kekasihnya, dan minta untuk dikenalkan dengan seorang perempuan yang bisa diajaknya mengobrol atau mungkin untuk hubungan yang lebih, agar tidak hanya temanku itu yang mengganggunya tengah malam untuk curhat. banyak persyaratan yang diutarakan suamiku untuk kriteria perempuan tersebut, selain dia belum punya pacar dia juga harus istimewa beda dengan yang lain, yang diistilahkanya bahwa perempuan itu harus macan, dan entah atas pertimbangan apa tamanku itu memberikan nomer hape ku. entah karena zodiakku Leo, entak karena aku adalah perempuan maco, entah karena aku seorang aktivis kampus yang suka demo, entah karena aku anak abur yang hampir 10 tahun tinggal jauh dari orang tua dan entahlah aku tidak pernah benar-benar tau.

malam itu (di bulan akhir 2009) hape-ku berdering, suara seorang lelaki yang serak parau terdengar di kejauhan. beberapa menit sebelumnya, temanku sudah mengirim SMS, melaporkan bahwa dia telah memberikan nomerku kepada teman laki-lakinya. aku sedikit kaget, berani benar temanku memberikan nomerku tanpa seijinku, tapi sekali lagi dia minta maaf. akhirnya kamipun berkenalan via telepon, cara bicaranya sangat tidak membosankan, selain itu aku tertarik karena dia juga mantan aktivis kampus (waktu itu dimataku, laki-laki menarik adalah aktivis kampus) yang dari gaya bicaranya ku gambarkan dia cukup cerdas, menimpali bahasaku yang ku ketuskan, ku plintir-plintirkan dan sedikit joke-joke menyindir yang awalnya ingin kubuat dia kapok menghubungiku lagi. ternyata,, obrolan kami tak terasa sampai tiga jam, tidak mungkin selama itu jika tak menarik, bukan?

bersambung

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ANALYSIS OF THE ELEMENTS IN JAMES BALDWIN’S SHORT STORY SONNY’S BLUES

Woman Hurt

INDIRA (part I)